Banyak sekali sesuatu yang tidak dimengerti laki-laki perihal perempuan, apalagi urusan perasaan. Perihal cinta, mula-mula seorang laki-laki berjuang keras untuk memperoleh cinta yang didamba-dambakannya. Ketika sudah berbicara tentang cinta, laki-laki sebagai makhluk paling rasional pun seperti kehilangan rasionya. Apapun dan bagaimanapun caranya, ia harus memperoleh cinta yang ia inginkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Bahkan tidak jarang kita temukan laki-laki yang rela menjadi budak cinta.
Yang menjadi masalah adalah tatkala laki-laki telah berhasil memperangkap perempuan dalam jaring cinta yang telah dibuatnya. Ia merasa telah puas dan bangga. Namun ia tidak tahu menahu apa yang harus ia lakukan setelah itu, seolah-olah ia telah mencapai garis finish, seolah-olah memenangkan hati wanita adalah akhir dari petualangannya. Padahal pada hakikatnya di situlah petualangan tersebut baru dimulai, bukan diakhiri. Ujungnya apa yang terjadi? Wanita selalu menjadi korban dari ambisi laki-laki. Perempuan selalu merasa dipermainkan, merasa digantungin dan tidak pernah diberi kepastian.
Ironisnya laki-laki tidak tahu seperti apa "kepastian" yang dikehendaki seorang wanita. Banyak laki-laki yang berpikir bahwa kepastian adalah perkara masa depan laki-laki, baik tentang pekerjaan yang mapan atau kekayaan finansial. Memang hal itu vital dalam mengarungi kehidupan rumah tangga, namun bukan utama, bukan itu kepastian yang diinginkan perempuan. Laki-laki harus mengerti bahwa kepastian yang diinginkan perempuan adalah tatkala laki-laki memastikan hati perempuan aman di tangannya, bahwa laki-laki menjadikannya satu-satunya, menjadikan tujuannya, bukan pilihan di antara sekian pilihan. Setidaknya laki-laki harus memastikan bahwa ia bertanggung jawab terhadap diri perempuan, terhadap perasaannya dan hidupnya. Pertanggungjawaban terhadap perempuan tidak selalu menyoal urusan duniawi belaka, tetapi pertanggungjawaban yang melibatkan Allah sebagai saksi bahwa laki-laki telah berkomitmen menjadikan perempuan sebagai teman hidupnya selamanya.
Perempuan tetaplah perempuan. Meskipun ia terlihat kuat, mandiri, penyabar dan tegar, ia tetap membutuhkan sandaran, tempat di mana ia bisa berkeluh kesah mencurahkan segala pilu yang menyesaki dada. Ia membutuhkan tempat di mana ia menemukan kedamaian, membutuhkan rumah tempat ia pulang, membutuhkan seseorang yang menunjukkan jalan.
Lalu apa yang harus dilakukan laki-laki jika ia belum mampu memberi kepastian? Tiada hal lain kecuali tidak memberikan harapan kepada perempuan. Menanam benih harapan pada hati perempuan tatkala laki-laki tidak siap menuai hanya akan menjadikan perempuan terombang-ambing dalam ketidakpastian. Kemudian pada akhirnya perempuan selalu menjadi pihak yang dirugikan.
Comments
Post a Comment