Setelah sekian purnama tidak belajar menulis, saya ingin kembali belajar menulis dengan membuat blog baru ini. Blog ini saya beri nama Rojulul Kurroh. Apa artinya? Mengapa saya beri nama itu?
Rojulul Kurroh merupakan kata dalam bahasa Arab. رَجُلٌ (rojulun) yang artinya laki-laki/orang/manusia dan كُرَّةٌ (kurrotun) yang artinya bola. Jika digabung menjadi susunan idhofah, kata tersebut bermakna "manusia bola" atau dalam bahasa Inggris bisa disebut "Ball Man". Penggunaan nama ini tidak lain karena begitu cintanya saya dengan bola. Bola memang sudah menjadi separuh jiwa saya. Entah mengapa, meskipun bola merupakan benda mati, tapi dia bisa membuat saya bahagia, bisa menjadi moodbooster saat saya sedang bad mood.
Awal mula saya jatuh cinta dengan sepak bola adalah ketika piala dunia tahun 2002. Hampir setiap malam saya diajak ayah bersepeda ke rumah kakek di desa Gontor demi menonton piala dunia. Saat itu keluarga kami belum punya TV, maka untuk menonton piala dunia, kami harus pergi ke rumah kakek di Gontor. Pada piala dunia tahun 2002, saya ingat betul betapa garangnya 2 negara yang saya idolakan saat itu, yaitu Brazil dengan para pemain full skill-nya dan Jerman dengan benteng pertahanannya yang sangat kokoh. Walhasil dua negara tersebut dipertemukan di laga final. Brazil unggul 2-0 atas Jerman. Semuanya dicetak oleh Ronaldo Nazario yang kala itu viral dengan gaya rambut kuncungnya. Ia mencetak gol ke gawang Oliver Kahn, kiper terbaik pada masa itu. Selain itu, dengan menonton piala dunia tahun 2002, saya mulai mengenal nama-nama pemain bola, taktik permainan dan seluk beluk lain tentang bola. Sejak inilah saya mulai terpikat dengan dunia sepak bola.
Begitu banyak kisah pahit manis saya dengan bola. Ketika masih sekolah MI dan diniyyah sore, saya cukup terkenal ahli bermain bola. Bagaimana tidak, ketika berangkat sekolah, saya tidak hanya membawa buku pelajaran saja, tetapi juga membawa bola. Ketika istirahat atau ketika menunggu guru masuk kelas, saya menyempatkan bermain bola di halaman sekolah bersama teman-teman. Di situlah saya melatih skill saya. Kemudian pada sore hari setelah pulang sekolah, hampir tiap hari saya bermain bola di halaman rumah teman atau di lapangan desa.
Ketika bermain bola, sudah menjadi hal yang lumrah bagi saya untuk mencetak gol, bukan satu dua gol, bahkan biasa lebih dari tiga gol dalam satu pertandingan. Selain itu, sejak kecil saya tidak suka bermain sepak bola ala kadarnya. Saya suka bermain bola dengan skill yang menghibur para penonton. Saya suka seni menggocek bola. Saya banyak belajar dari skill Ronaldinho, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi dalam menggiring bola.
Hobi bermain bola membuat saya ingin berkarir di dunia sepak bola. Namun sedihnya, saya dilarang orang tua untuk ikut SSB (Sekolah Sepak Bola), bahkan dibelikan sepatu bola saja tidak. Padahal waktu MI, ada kakak kelas saya yang berhasil ikut Liga Danone, liga sepak bola usia anak-anak antar negara. Ketika dia melihat saya jago bermain bola, dia membujuk saya untuk bergabung ke sebuah sekolah sepak bola supaya saya bisa ikut Liga Danone. Dia juga berkali-kali membujuk orang tua saya supaya saya bisa mengikuti jejaknya. Tapi gagal. Orang tua tetap tidak setuju. Namun saking baiknya dia, dia memberi saya sepatunya supaya bisa saya pakai latihan sepak bola otodidak di rumah. Dengan modal sepatu pemberian tersebutlah saya berlatih otodidak di halaman rumah selepas pulang sekolah MI bersama adik sepupu atau saudara saya yang lain.
Setelah lulus MI saya melanjutkan studi di SMPN 1 Jetis. Di SMP hidup saya lagi-lagi tidak jauh dari bola. Olahraga selalu menjadi pelajaran terfavorit. Saya selalu menjadi bintang kelas saat classmeeting. Saya cukup terkenal karena kelas saya menjadi juaranya. Karena terkenal jago bermain bola itulah mulai ada lawan jenis yang terpikat dengan saya. Ada adik kelas yang menyatakan ketertarikannya pada saya melalui lidah teman saya. Kala itu saya tidak perduli, mungkin karena saya belum baligh, belum mengenal cinta kepada lawan jenis.
Ketika kelas 3 SMP saya sering bermain di lapangan Gontor. Suatu hari ketika saya berangkat ke lapangan Gontor, saya melihat para ustadz Gontor sedang bermain di sana. Karena sudah banyak yang bermain, saya cukup menyaksikan mereka dari pinggir lapangan saja. Di saat asyik-asyiknya mereka bermain, tiba-tiba ada satu orang yang keluar lapangan entah karena capek atau cedera. Lantas para ustadz itu hendak mencari penggantinya. Karena cuma ada saya di pinggir lapangan, maka saya lah yang diminta menjadi pengganti pemain tersebut. Para ustadz tersebut takjub. Ketika saya baru masuk menjadi pemain pengganti, saya langsung membuat keajaiban. Mereka takjub karena ada anak kecil dengan tinggi 132 cm dan postur tubuh yang begitu kurus, namun begitu lihai bermain bola. Walhasil pada pertandingan itu, saya berkali-kali mengelabuhi para ustadz itu dengan skill yang saya miliki dan mencetak banyak gol. Dari situlah awal mula perkenalan saya dengan ustadz Gontor.
Selepas takjubnya ustadz-ustadz itu dengan permainan saya, mereka langsung mengajak saya berkenalan. Kemudian di lain hari, mereka beberapa kali mengajak saya untuk ikut mereka kembali bermain bola bersama. Bahkan suatu hari, ketika saya sedang sakit, tiba-tiba ada truk berisikan ustadz Gontor di depan rumah saya. Mereka hendak pergi bermain bola di stadion Bathoro Katong. Mereka mampir ke rumah saya dengan maksud mengajak saya ikut bermain dengan mereka. Namun apa boleh buat, kondisi saya tidak mendukung kala itu.
Semenjak berkenalan dengan ustadz Gontor, saya sering dimotivasi untuk melanjutkan studi di Pondok Gontor. Untuk itu mereka menyuruh saya datang ke kamarnya untuk belajar mengaji dan belajar materi masuk Gontor setiap setelah maghrib. Mereka ingin ketika saya masuk Pondok, saya mengikuti salah satu klub bola di sana supaya bakat saya tersalurkan.
Alhamdulillah, akhirnya saya diterima di Pondok Gontor. Di sana saya ingin melanjutkan bakat saya di dunia Sepak Bola. Namun saya tidak jadi ikut tim sepak bola, melainkan futsal. Karena pada saat itu futsal lebih menarik setelah melihat kondisi cuaca dan lapangan. Di Gontor lagi-lagi saya menjadi bintang futsal. Saya diangkat menjadi Porpig (Tim inti futsal Gontor) setelah seleksi yang cukup sulit dan ketat. Selama saya berkiprah di Porpig, tidak sekalipun saya kalah saat melawan pondok-pondok lain yang bertamu ke Gontor. Hobi ini pun berlanjut ketika pengabdian di Gontor. Saya bersama ustadz-ustadz lain yang hobi futsal memberanikan diri untuk mengikuti kompetisi Bupati Cup di Ponorogo. Alhamulillah, kami menyabet juara 1 kala itu. Sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya.
Selesai pengabdian saya berkeinginan untuk melanjutkan cita-cita saya untuk menjadi pemain sepak bola dengan melanjutkan studi di Prodi Olahraga UNY. Namun sayangnya kala itu saya tidak memiliki ijazah negara karena pondok Gontor tidak mengikuti kurikulum pemerintah dan ada kendala perihal kesetaraan ijazah alumni pondok dengan alumni sekolah umum. Selain itu orang tua juga tidak menyetujui. Pupus sudah harapan untuk menjadi pemain sepak bola. Akhirnya saya melanjutkan studi di sebuah prodi yang bahkan namanya tidak pernah terlintas di benak saya dan tidak pernah terdengar oleh telinga saya, yaitu prodi Bahasa dan Sastra Arab di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sejak itu menjadi pemain sepak bola bukan lagi cita-cita saya. Namun bukan berarti saya tidak suka bermain bola lagi. Saya masih sering ikut kompetisi kecil-kecilan dengan teman jurusan atau teman alumni Gontor. Alhamdulillah beberapa kali kami mendapatkan juara. Ini sudah cukup membahagaikan diri ini.
Sampai kini saya tidak bisa lepas dari bola meskipun berkarir di dunia sepak bola sudah bukan menjadi cita-cita saya. Bola sudah menempati ruang tersendiri di hati ini. Entah mengapa, kala saya dirundung gundah gulana, bola menjadi pelipurnya. Bahkan tidak jarang ketika saya sedang tidak enak badan sekalipun, jika ada teman yang mengajak bermain futsal, saya usahakan semampu mungkin untuk datang. Herannya, ketika bermain saya seperti tidak merasakan sakit apapun. Begitu pula ketika saya sedang banyak masalah, saya jarang menceritakannya ke orang lain. Cukup dengan bermain bola saya sudah lupa dengan masalah tersebut. Ada hubungan yang tidak bisa dijelaskan lebih detil antara saya dengan bola. Mungkin ketika saya sudah punya istri, sejak jauh-jauh hari akan saya ceritakan padanya tentang betapa cintanya saya dengan bola supaya dia tidak cemburu dengan hubungan saya dengan bola yang sudah terjalin sejak kecil. Hehe ...
Inilah sekelumit cerita mengapa blog ini saya namakan Rojulul Kurroh. Mungkin ke depannya, tulisan-tulisan yang ada di blog ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan bola. Penamaan Rojulul Kurroh hanya sebagai bentuk kecintaan saya dengan bola dan bentuk apresiasi saya kepada bola yang sudah mewarnai hidup saya selama ini.
Comments
Post a Comment